“Kau mengalihkan pembicaraan…!Dan… memaksakan diri mencari-cari alasan.”
“Tapi, diawal Kau juga membahas India bukan?”
“Kau menyebalkan! Kak Balqis bisa menderita karena rokokmu ini.” Ujar Faruq membuang rokok yang dihisap Rozi ke luar.
“Hei…Kau…! Aku susah payah membelinya Kau tahu?” Rozi mengambil kembali rokoknya dari tanah kemudian menghisapnya lagi.
“Itulah bodohnya Kau! Benda mahal dan merusak tubuh begitu masih saja Kau beli. Apa Kau sudah lupa dengan ilmu biologi dari guru SD-mu dulu, didalam asap rokok itu mengandung Hydrogen Cyanide (racun hukuman mati), Aceton (penghapus cat), Toluene (Pelarut Industri), Methanol (Bahan bakar roket), Pyrene, Benzopyrene, Vinyl Chloride,…”
“Urethane… Dibenzacridine… Phenol, Butane…, Napthalene (kapur barus)…”Sahut Rozi meneruskan ucapan Faruq. Asap rokoknya tetap mengepul.
“Itu Kau masih ingat!”
“Gak jantan kalau laki-laki gak suka rokok, seperti Kau…! Banci…!”
“Heh, Asal Kau tahu! Kebanyakan perempuan terserang kanker payudara karena suaminya itu perokok berat.”
“Mbuhhh…!” Spontan Rozi menyemburkan rokok dari bibirnya. Rokok itu jatuh ke tanah
“Kau menyumpahiku dan Kakakmu”
“Justru Aku tak rela Kakakku menderita terus karena tingkahmu, Tuan Arju Vi Jaisy. Awas saja kalau Kau berani lakukan itu.” Sergah Faruq meninggalkan rumah Rozi. Lirikannya mengancam.
***
18 Mei 2010
Hari ini Indonesia kembali menuliskan sejarahnya. Setiap Kabupaten/ Kota Madya diseluruh Indonesia sedang bersiap-siap menyambut acara pemilihan bupati/ walikota masing-masing secara bergilir. Begitu pula dengan Kota Kapur, Kota tempat Aku Arju Vi Jaisy dan istri tercintaku Balqis menjalani bahtera rumah tangga. Diantara kandidat calon bupati kota kami bersaudara, mereka Kakak beradik. Wah, bisa-bisa wartawan dan paparazi dapat honor tambahan nih gara-gara mereka. Apa yang akan mereka pilih ya? Jalur damai, ada salah satu yang mengalah atau akan berlomba-lomba mengangkat senjata dan saling baku hantam…?
20 Mei 2010
Mereka sama-sama menggelar kampanye, Kata orang-orang saling jor…joran…[3]. Mereka berlomba-lomba mengadakan istigosah kubro, ziarah makam wali dan kegiatan rohani lainnya. Maklum kota ini katanya disebut sebagai kotanya para santri. Kasihan santri-santri itu mereka sekarang jadi korban koran-koran kuning[4].
21 Mei 2010
Berdebat dengan teman chatting. Dia tak terima kalau Aku mengatakan bahwa kebanyakan pesantren di kota Kapur ini belum bisa menerapkan sistem Demokrasi. Aku kekeh[5] dengan pendapatku karena Aku merasa sistem dari, oleh untuk rakyat itu tak mungkin bisa diterapkan jika masih ada saja oknum yang secara tidak langsung memaksa santri memilih tidak dengan hati nurani.
Berbeda dengan pendapatnya, Menurutnya para santri telah memfungsikan kata Demokrasi secara penuh diawal saat santri memasrahkan dirinya untuk menuntut ilmu di Pesantren.. Dalam menentukan pilihannya untuk menuntut ilmu di pesantren, itu saja sudah berarti dari oleh untuk dirinya sendiri. Setelah itu kewajiban santri adalah sam’an wa athaan[6] kepada gurunya sebagai tindak lanjut dari pilihan hidupnya di awal.
Ah, itulah yang membuatku kagum pada pesantren dan orang-orangnya. Benar-benar isi kitab Ta’limul Muta’alim yang diamalkan sepenuhnya.
23 Mei 2010
Ini bukan yang pertama kalinya Aku memanfaatkan hak pilihku pada pemilihan Bupati kota Kapur. Tapi, yang membuatku benci adalah ketidak warasan salah satu kandidat calon petinggi. Pak A… melalui kaki tangannya memberiku sebungkus plastik berisi 4 buah mie instan. Padahal dalam aturan perundang-undangan pemilu dilarang keras berkampanye dalam bentuk apapun pada masa hari tenang, apalagi saat pemilu. Bagiku 1 mie instan, 1 suara = menjual harga diri.
25 Mei 2010
Entah kenapa pertemuan dengan sobat lama sekaligus adik iparku Faruq, mengingatkanku kembali dengan Negara Mesir. Ya, mungkin karena Aku, Istriku dan Faruq pernah belajar satu kampus di Al-Azhar Cairo Mesir. Namun Aku dan Balqis lebih dulu pulang ke Indonesia setelah meraih gelar Lc dan melangsungkan pernikahan disana, sedangkan Muhammad Faruq sobat sekaligus adik iparku itu tetap melanjutkan study S-2 nya.
Peradaban Ekstrim di Negri Piramid itulah yang sebenarnya membuat Aku tak bisa dengan mudah melupakannya. Ulama’ disana punya ciri khusus yang siapapun tidak berani meniru cara berpakaiannya apalagi sampai menyamar menjadi bagian dari mereka. Jubah putih dengan imamah yang dilingkarkan ke kopyah merah mereka. Yang berpakaian seperti itu biasanya menyimpan 30 juz ayat Al-qur’an, cara membaca dan mentafsiri di dalam dadanya.
Dan yang membuatku tak berkedip ketika pertamakali menginjakkan kaki dan berdesak-desakan disebuah angkutan umum di negri itu adalah kebiasaan wanita-wanita Mesir yang tidak betah berlama-lama memakai pakaian tebal. Pakaian mereka sangat tipis dan nyaris terlihat warna kulitnya. Alasannya simple, PANAS…! Namun, rupa-rupanya gadis Indonesia mulai mengikuti tren ini. AJANG MEMPERLIHATKAN LEKUK TUBUH…!
Tak urung Aku memanfaatkan kesempatan melihat pemandangan itu selam mungkin. Menurut isi hadits Rosul yang pernah Aku pelajari, pandangan pertama adalah rizqi, yang kedua dan selanjutnya adalah haram. Dan disaat yang bersamaan pula Faruq menginjak kakiku dan berbisik, “Jangan suka Kau plesetkan hadits Nabi…! Kwalat…!”
Yang jelas, dari latar belakang untuk menahan diri dan nafsu inilah banyak perkumpulan Mahasiswa yang kemudian menghalalkan kawin muth’ah atau di Indonesia di kenal sebagai kawin kontrak. Tapi, bukan berarti pernikahanku dengan Balqis, istriku juga karena halitu. Aku benar-benar jatuh cinta pada budi, kecantikan, dan kecerdasannya sebagai seorang wanita. Aku mencintainya karena Allah. Meskipun teman-teman sering mempertanyakan kewarasanku karena menyukai gadis 3 tahun lebih tua dariku. Aku tak peduli, Dia adalah Khadijah bagi seorang Arju Vi Jaysi.
27 Mei 2010
Aku tak suka dengan kedatangan Faruq ke rumah untuk pertama kalinya. Bukan karena Dia mengomentari keadaan rumahku. Tapi ada hal lain. Walaupun Dia berkelakar, “Mana hasil gelar Licence-mu.” Ah biar saja, Dia tak perlu tahu kalau sebenarnya Aku hanya tak ingin jejak kehidupan Rosulullah SAW terhapus dari peradaban Islam modern. Rumah yang sederhana dan tidur beralaskan tikar bersama Sayyidah Aisyah. Bukankah Al-Ghazali yang di kaguminya juga menghendaki hal yang sama sepertiku terhadap segala sesuatu berbau dunia?
Yang membuatku sakit hati, Dia menyinggungku dengan kata MANDUL gara-gara Aku belum juga memberi Balqis putra. Jodoh…, kelahiran…, rizqi…, kehidupan… dan kematian…, toh bukan Aku yang menentukan. Tapi, yang membuatku bahagia dan semakin mencintai Balqis, istriku adalah kesetian dan ketaatan Balqis yang luar biasa. Dia benar-benar istri yang sholihah.
18 Juni 2010
Ada putaran kedua pemilihan bupati Kota Kapur kali ini, kedua Kakak beradik kandidat calon petinggi sama-sama unggul Mereka saling tidak menyapa. Bahkan isu yang tersebar di masyarakat mereka berusaha menjatuhkan satu sama lain. Para pendukung mereka tawuran, aksi sogok menyogok terjadi di setiap Kecamatan. Kali ini posisi dan peran uang tak hanya sebagai alat transaksi, tapi sebagai Alat KOMUNIKASI MODERN.
Gimana mau memimpin rakyat kalau memimpin diri sendiri saja tidak bisa, Gimana mau mengayomi dan menyayangi rakyat kalau mengayomi dan menyayangi saudara sedarah sedaging saja tidak bisa. Apa yang harus Aku lakukan agar hal ini tak berlarut-larut. Aku harus lakukan sesuatu.
25 Juni 2010
Aku kesepian. Balqis ke rumah mertuaku, Mamak Balqis di kota Tahu. Mungkin sebulan. Katarak di mata kanan Mamak melebar. Katanya keadaan bapak juga semakin buruk, TBC yang menyerangnya membuat batuknya tak berhenti. Sesekali keluar darah dari mulutnya. Kata dokter sudah stadium akhir. Mendengar penyakit itu Aku teringat rokok yang selalu Aku dan Bapak gemari. Ngeri juga.
Kalau Cuma mengandalkan Faruq…, mana mungkin Dia bantu pengobatan Bapak. Masih mending Aku, walau pekerjaanku hanya sebagai blogger dan novelis amatiran yang kata orang terlalu revolusioner. Aku masih bisa bantu sedikit untuk biaya makan Mamak Bapak sehari-hari tiap bulannya. Tapi, bukan berarti Faruq lebih miskin dari Aku.
Sebenarnya Dia benci sama Bapak, karena Bapak hanya suami kedua Mamak. Bukan Bapak kandungnya. Apalagi setelah Faruq tahu Bapak kandungnya meninggal bukan karena penyakit, tapi dibunuh Bapak tirinya. Perebutan perempuan…! Ah, Aku teringat hadits Rosul SAW yang dihukumi Hasan Shohih oleh Abu Isa, Insya Allah bermakna “ Tidaklah Aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) perempuan.” Perempuan memang fitnah, ujian. Perempuan adalah ujian bagi laki-laki sekaligus sesuatu yang dicintai
Untung saja Faruq masih menyisakan sedikit iman, barang kali. Kalau tak, mungkin namanya berada dalam daftar buronan polisi. ‘Dicari Buronon dengan nama lengkap Muhammad Faruq bin Mustofa Al-Maulidy sebagai tersangka pembunuh Bapak Saleman’. Mungkin lebih tepatnya Sulaiman, Nama mertua tiriku yang diplesetkan lidah ajam alias non Arab.
1 Juli 2010
Ide gilaku muncul, ... menteror calon petinggi. Dengan apa ya…? Hanya senjata api biasa atau dinamit? Aku akan buat mereka rukun kembali karena terorku. Biar saja pasukan Detasemen Khusus 88 kelimpungan mencariku. Aku muak dengan berita di Koran hari ini Pilbub tak jelas. Ujung-ujungnya hanya diberitakan bahwa pendukung keduanya bentrok.. Seandainya salah satu diantara mereka terpilih, tidak menutup kemungkinan uang rakyat juga yang diembat untuk menutupi pengeluaran biaya kampanye. Rakyat juga yang repot.
2 Juli 2010
Ha…ha…ha… Alhamdulillah, akhirnya Balqis hamil. Aku akan punya Arju Vi Jaysi kecil
3 Juli 2010
Faruq bermimpi Aku menikah lagi, Jika benar tafsiran mimpi menikah adalah sebaliknya atau bisa berarti K.E.M.A.T.I.A.N, lalu bagaimana nasib Balqis jika Aku mati, Apakah ada hubungan antara kematianku dengan rencana penteroran? Akankah Aku menghentikan ide gilaku untuk menteror calon petinggi? Tak apa Aku masih punya Arju Vi Jaysi kecil, penerusku, pelindung Balqisku. Aku harus punya komitmen dan tidak plin plan. Bagaimana kalau Arju Vi Jaysi kecilku tahu kalau Ayahnya takut pada misteri maut? Itu tak boleh dibiarkan.
Tapi, Faruq mengataiku, berusaha sekuat tenaga agar Aku tak melakukan ide gilaku. Bahkan Dia berani membuang satu-satunya bubuk mesiu milikku. Dia bingung dengan ucapanku tentang densus, arsy dan daunnya. Aku yakin sebenarnya Dia tahu makna ucapanku hanya saja Dia ingin menyakinkan dirinya bahwa Aku sedang mengigau.
5 Juli 2010
Aku berangkat menuju MATI
***
7 Juli 2017
Lembaran catatan harian dengan sebuah nama ‘Arju Vi Jaysi alias Ar-Rozi’ di halaman depannya berlumuran darah. Truk, Mobil pick-up, phanter dan beberapa sepeda motor telah melindasnya. Lembarannya terkoyak. Ada sepasang mata kecil bercahaya tanpa berkedip memperhatikan lembaran yang sesekali tertiup angin itu. Yang terlihat jelas di lembar terakhir adalah kata mati dengan huruf yang semakin tak jelas karena sepertinya tinta yang digunakan telah habis.
Beberapa jam yang lalu memang terjadi kecelakaan lalu lintas. Sebuah tragedi tabrak lari, korbannya dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Sesuatu milik korban yang tertinggal adalah buku catatan harian berlumuran darah pemiliknya. Bocah kecil bersarung kumal dan berkaus putih mangkak yang sedari tadi memperhatikan buku itu memungutnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Matanya awas memperhatikan sekeliling, kemudian mendekapnya erat, mungkin Dia takut ada orang lain atau polisi ingin merebut buku itu darinya. Perlahan Dia masuk Gang dan merapat ke gang kecil diantara dua warung kopi. Siaran Telivisi di warung, berlomba memberitakan kejadian beberapa jam yang lalu di sekitar jalanan itu.
“Sebuah kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Tambak Rejo Kota Kapur. Korban tabrak lari itu adalah seorang laki-laki tua yang belakangan sedang dicari-cari oleh polisi dan pihak Rumah Sakit Jiwa Permata kapur lantaran tindakan membahayakan yang dilakukannya. Beberapa bulan yang lalu Dia telah mencuri senjata api bermerek Colt M-14 Stayer milik Komandan Sucipto.
Korban yang bernama lengkap Arju Vi Jaysi ini dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Rakyat dalam keadaan tak sadarkan diri. Senjata bermerek Colt M-14 Stayer milik Komandan Sucipto yang ditemukan oleh polisi lalu lintas langsung diamankan ke kantor Kepolisian pusat di Kabupaten. Menurut keterangan dokter yang menanganinya, Dia mungkin akan mengalami KOMA[7] untuk beberapa waktu yang cukup lama karena ada benturan hebat di otaknya….” Keterangan panjang lebar yang di sampaikan oleh Presenter TV One itu membuat Bocah kecil semakin menggenggam erat buku berlumuran darah di tangannya. Air matanya perlahan jatuh.
“Vijay…! Arju Vi Jaysi…! Dimana Kau Nak…!” Perempuan Tua terdengar serak memanggil sebuah nama.
Bocah itu terperangah karena merasa namanya di panggil.
“Rupanya Kau disini sayang! Bunda cari Kamu kemana-mana tadi.” Tangan kecilnya cekatan menggulung buku catatan harian berlumuran darah dan memasukkannya ke dalam lipatan sarung kumalnya.
[4] Koran berisi gosip.
[5] Berpendirian teguh
[6] Sendika dawuh, memperhatikan kemudian taat melaksanakan apa yang diperintahkan.
[7] Antara hidup dan mati
Baca Selengkapnya..