NEWS ONLINE

Loading...

Rabu, 23 November 2011

TAK ADA DRUM, GALON PUN JADI

dung...dung... trek... trekkk. genjreng...genjreng...
Simpang siur pendapat ulama' tentang "MUSIC" terkadang membuat saya sedikit bimbang. Harus menjauh dari music ataukah tetap menikmatinya tanpa memikir halal haramnya... Jujur sebenarnya seni adalah jiwa saya... ya meski khusus untuk seni music saya benar-benar gak punya bakat... :)
Dalam menghukumi musik, kata al-Gazali, para ulama berbeda pendapat. Sejumlah ulama seperti Qadi Abu Tayyib al-Tabari,  Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Sufyan dan lainnya menyatakan bahwa musik hukumnya haram. Seperti kata Imam Syafi’i,  ”Menyanyi hukumnya makruh dan menyerupai kebatilan. Barang siapa sering bernyanyi maka tergolong safeh (orang bodoh). Karena itu, syahadah-nya (kesaksiannya) ditolak”. 
Bahkan di Kitab Sullamu Taufiq yang saya pelajari waktu SD dulu, memang ada beberapa alat music (seperti: seruling,dll) yang haram untuk dimainkan karena sama halnya dengan memanggil para setan... Hiii takut... 
Tapi, lepas dari itu saya jadi sedikit membuka mata dan telinga untuk masalah ini. Pada 23 Nopember lalu,dalam acra yang dikemas cantik oleh Santri indigo yang bekerjasama dengan Harian republika dan telkom indonesia, GILANG RAMADHAN membuat saya terpukau dengan demo permainan Drum-nya. Sederhana tapi menggigit... masa rythem sekeren itu beliau cuma pakek Galon air... KEREN BANGET KAN?
Yang membuat saya sadar adalah... ternyata music itu membuat hati saya sedikit tenang... music bisa menetralisir otak kita yang jenuh... ternyata ulama' zaman dulu juga menggunakan music untuk menghilangkan kejenuhan... ehmmm....seperti imam ibnu Juraij...
ya... kalau tanya opini pribadi saya... asal music itu tidak menyebabkan kita melupakan Allah... Well... kenapa tidak? Bahkan jika berniat mendakwahkan syari'at Islam lewat music...! itu justru ada nilai lebih bukankah Allah telah berfirman :
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“ALLAAH tidak akan menyiksa kamu akibat al-laghwi dalam sumpah-sumpahmu, melainkan IA akan mengazabmu karena dosa yang disengaja dari dalam hatimu..”[22]

... yang jelas segala hal itu bergantung dari niatnya kan? ...

Yang menarik...


Selain ilmu... di pelatihan SANTRI INDIGO ini saya dapat banyak hal... salah satunya bisa foto bareng sama Kak Gilang Ramadhan dan Kak Ismail, Sang Direktur PT. Zahir Internasional... :)

Baca Selengkapnya..

MATI bagian II


“Kau mengalihkan pembicaraan…!Dan… memaksakan diri mencari-cari alasan.”

“Tapi, diawal Kau juga membahas India bukan?”

“Kau menyebalkan! Kak Balqis bisa menderita karena rokokmu ini.” Ujar Faruq membuang rokok yang dihisap Rozi ke luar.

“Hei…Kau…! Aku susah payah membelinya Kau tahu?” Rozi mengambil kembali rokoknya dari tanah kemudian menghisapnya lagi.

“Itulah bodohnya Kau! Benda mahal dan merusak tubuh begitu masih saja Kau beli. Apa Kau sudah lupa dengan ilmu biologi dari guru SD-mu dulu, didalam asap rokok itu mengandung Hydrogen Cyanide (racun hukuman mati), Aceton (penghapus cat), Toluene (Pelarut Industri), Methanol (Bahan bakar roket), Pyrene, Benzopyrene, Vinyl Chloride,…”

“Urethane… Dibenzacridine… Phenol, Butane…, Napthalene (kapur barus)…”Sahut Rozi meneruskan ucapan Faruq. Asap rokoknya tetap mengepul.

“Itu Kau masih ingat!”

“Gak jantan kalau laki-laki gak suka rokok, seperti Kau…! Banci…!”

“Heh, Asal Kau tahu! Kebanyakan perempuan terserang kanker payudara karena suaminya itu perokok berat.”

“Mbuhhh…!” Spontan Rozi menyemburkan rokok dari bibirnya. Rokok itu jatuh ke tanah

“Kau menyumpahiku dan Kakakmu”

“Justru Aku tak rela Kakakku menderita terus karena tingkahmu, Tuan Arju Vi Jaisy. Awas saja kalau Kau berani lakukan itu.” Sergah Faruq meninggalkan rumah Rozi. Lirikannya mengancam.

***

18 Mei 2010

Hari ini Indonesia kembali menuliskan sejarahnya. Setiap Kabupaten/ Kota Madya diseluruh Indonesia sedang bersiap-siap menyambut acara pemilihan bupati/ walikota masing-masing secara bergilir. Begitu pula dengan Kota Kapur, Kota tempat Aku Arju Vi Jaisy dan istri tercintaku Balqis menjalani bahtera rumah tangga. Diantara kandidat calon bupati kota kami bersaudara, mereka Kakak beradik. Wah, bisa-bisa wartawan dan paparazi dapat honor tambahan nih gara-gara mereka. Apa yang akan mereka pilih ya? Jalur damai, ada salah satu yang mengalah atau akan berlomba-lomba mengangkat senjata dan saling baku hantam…?

20 Mei 2010

Mereka sama-sama menggelar kampanye, Kata orang-orang saling jor…joran…[3]. Mereka berlomba-lomba mengadakan istigosah kubro, ziarah makam wali dan kegiatan rohani lainnya. Maklum kota ini katanya disebut sebagai kotanya para santri. Kasihan santri-santri itu mereka sekarang jadi korban koran-koran kuning[4].

21 Mei 2010

Berdebat dengan teman chatting. Dia tak terima kalau Aku mengatakan bahwa kebanyakan pesantren di kota Kapur ini belum bisa menerapkan sistem Demokrasi. Aku kekeh[5] dengan pendapatku karena Aku merasa sistem dari, oleh untuk rakyat itu tak mungkin bisa diterapkan jika masih ada saja oknum yang secara tidak langsung memaksa santri memilih tidak dengan hati nurani.

Berbeda dengan pendapatnya, Menurutnya para santri telah memfungsikan kata Demokrasi secara penuh diawal saat santri memasrahkan dirinya untuk menuntut ilmu di Pesantren.. Dalam menentukan pilihannya untuk menuntut ilmu di pesantren, itu saja sudah berarti dari oleh untuk dirinya sendiri. Setelah itu kewajiban santri adalah sam’an wa athaan[6] kepada gurunya sebagai tindak lanjut dari pilihan hidupnya di awal.

Ah, itulah yang membuatku kagum pada pesantren dan orang-orangnya. Benar-benar isi kitab Ta’limul Muta’alim yang diamalkan sepenuhnya.

23 Mei 2010

Ini bukan yang pertama kalinya Aku memanfaatkan hak pilihku pada pemilihan Bupati kota Kapur. Tapi, yang membuatku benci adalah ketidak warasan salah satu kandidat calon petinggi. Pak A… melalui kaki tangannya memberiku sebungkus plastik berisi 4 buah mie instan. Padahal dalam aturan perundang-undangan pemilu dilarang keras berkampanye dalam bentuk apapun pada masa hari tenang, apalagi saat pemilu. Bagiku 1 mie instan, 1 suara = menjual harga diri.

25 Mei 2010

Entah kenapa pertemuan dengan sobat lama sekaligus adik iparku Faruq, mengingatkanku kembali dengan Negara Mesir. Ya, mungkin karena Aku, Istriku dan Faruq pernah belajar satu kampus di Al-Azhar Cairo Mesir. Namun Aku dan Balqis lebih dulu pulang ke Indonesia setelah meraih gelar Lc dan melangsungkan pernikahan disana, sedangkan Muhammad Faruq sobat sekaligus adik iparku itu tetap melanjutkan study S-2 nya.

Peradaban Ekstrim di Negri Piramid itulah yang sebenarnya membuat Aku tak bisa dengan mudah melupakannya. Ulama’ disana punya ciri khusus yang siapapun tidak berani meniru cara berpakaiannya apalagi sampai menyamar menjadi bagian dari mereka. Jubah putih dengan imamah yang dilingkarkan ke kopyah merah mereka. Yang berpakaian seperti itu biasanya menyimpan 30 juz ayat Al-qur’an, cara membaca dan mentafsiri di dalam dadanya.

Dan yang membuatku tak berkedip ketika pertamakali menginjakkan kaki dan berdesak-desakan disebuah angkutan umum di negri itu adalah kebiasaan wanita-wanita Mesir yang tidak betah berlama-lama memakai pakaian tebal. Pakaian mereka sangat tipis dan nyaris terlihat warna kulitnya. Alasannya simple, PANAS…! Namun, rupa-rupanya gadis Indonesia mulai mengikuti tren ini. AJANG MEMPERLIHATKAN LEKUK TUBUH…!

Tak urung Aku memanfaatkan kesempatan melihat pemandangan itu selam mungkin. Menurut isi hadits Rosul yang pernah Aku pelajari, pandangan pertama adalah rizqi, yang kedua dan selanjutnya adalah haram. Dan disaat yang bersamaan pula Faruq menginjak kakiku dan berbisik, “Jangan suka Kau plesetkan hadits Nabi…! Kwalat…!”

Yang jelas, dari latar belakang untuk menahan diri dan nafsu inilah banyak perkumpulan Mahasiswa yang kemudian menghalalkan kawin muth’ah atau di Indonesia di kenal sebagai kawin kontrak. Tapi, bukan berarti pernikahanku dengan Balqis, istriku juga karena halitu. Aku benar-benar jatuh cinta pada budi, kecantikan, dan kecerdasannya sebagai seorang wanita. Aku mencintainya karena Allah. Meskipun teman-teman sering mempertanyakan kewarasanku karena menyukai gadis 3 tahun lebih tua dariku. Aku tak peduli, Dia adalah Khadijah bagi seorang Arju Vi Jaysi.

27 Mei 2010

Aku tak suka dengan kedatangan Faruq ke rumah untuk pertama kalinya. Bukan karena Dia mengomentari keadaan rumahku. Tapi ada hal lain. Walaupun Dia berkelakar, “Mana hasil gelar Licence-mu.” Ah biar saja, Dia tak perlu tahu kalau sebenarnya Aku hanya tak ingin jejak kehidupan Rosulullah SAW terhapus dari peradaban Islam modern. Rumah yang sederhana dan tidur beralaskan tikar bersama Sayyidah Aisyah. Bukankah Al-Ghazali yang di kaguminya juga menghendaki hal yang sama sepertiku terhadap segala sesuatu berbau dunia?

Yang membuatku sakit hati, Dia menyinggungku dengan kata MANDUL gara-gara Aku belum juga memberi Balqis putra. Jodoh…, kelahiran…, rizqi…, kehidupan… dan kematian…, toh bukan Aku yang menentukan. Tapi, yang membuatku bahagia dan semakin mencintai Balqis, istriku adalah kesetian dan ketaatan Balqis yang luar biasa. Dia benar-benar istri yang sholihah.

18 Juni 2010

Ada putaran kedua pemilihan bupati Kota Kapur kali ini, kedua Kakak beradik kandidat calon petinggi sama-sama unggul Mereka saling tidak menyapa. Bahkan isu yang tersebar di masyarakat mereka berusaha menjatuhkan satu sama lain. Para pendukung mereka tawuran, aksi sogok menyogok terjadi di setiap Kecamatan. Kali ini posisi dan peran uang tak hanya sebagai alat transaksi, tapi sebagai Alat KOMUNIKASI MODERN.

Gimana mau memimpin rakyat kalau memimpin diri sendiri saja tidak bisa, Gimana mau mengayomi dan menyayangi rakyat kalau mengayomi dan menyayangi saudara sedarah sedaging saja tidak bisa. Apa yang harus Aku lakukan agar hal ini tak berlarut-larut. Aku harus lakukan sesuatu.

25 Juni 2010

Aku kesepian. Balqis ke rumah mertuaku, Mamak Balqis di kota Tahu. Mungkin sebulan. Katarak di mata kanan Mamak melebar. Katanya keadaan bapak juga semakin buruk, TBC yang menyerangnya membuat batuknya tak berhenti. Sesekali keluar darah dari mulutnya. Kata dokter sudah stadium akhir. Mendengar penyakit itu Aku teringat rokok yang selalu Aku dan Bapak gemari. Ngeri juga.

Kalau Cuma mengandalkan Faruq…, mana mungkin Dia bantu pengobatan Bapak. Masih mending Aku, walau pekerjaanku hanya sebagai blogger dan novelis amatiran yang kata orang terlalu revolusioner. Aku masih bisa bantu sedikit untuk biaya makan Mamak Bapak sehari-hari tiap bulannya. Tapi, bukan berarti Faruq lebih miskin dari Aku.

Sebenarnya Dia benci sama Bapak, karena Bapak hanya suami kedua Mamak. Bukan Bapak kandungnya. Apalagi setelah Faruq tahu Bapak kandungnya meninggal bukan karena penyakit, tapi dibunuh Bapak tirinya. Perebutan perempuan…! Ah, Aku teringat hadits Rosul SAW yang dihukumi Hasan Shohih oleh Abu Isa, Insya Allah bermakna “ Tidaklah Aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) perempuan.” Perempuan memang fitnah, ujian. Perempuan adalah ujian bagi laki-laki sekaligus sesuatu yang dicintai

Untung saja Faruq masih menyisakan sedikit iman, barang kali. Kalau tak, mungkin namanya berada dalam daftar buronan polisi. ‘Dicari Buronon dengan nama lengkap Muhammad Faruq bin Mustofa Al-Maulidy sebagai tersangka pembunuh Bapak Saleman’. Mungkin lebih tepatnya Sulaiman, Nama mertua tiriku yang diplesetkan lidah ajam alias non Arab.

1 Juli 2010

Ide gilaku muncul, ... menteror calon petinggi. Dengan apa ya…? Hanya senjata api biasa atau dinamit? Aku akan buat mereka rukun kembali karena terorku. Biar saja pasukan Detasemen Khusus 88 kelimpungan mencariku. Aku muak dengan berita di Koran hari ini Pilbub tak jelas. Ujung-ujungnya hanya diberitakan bahwa pendukung keduanya bentrok.. Seandainya salah satu diantara mereka terpilih, tidak menutup kemungkinan uang rakyat juga yang diembat untuk menutupi pengeluaran biaya kampanye. Rakyat juga yang repot.

2 Juli 2010

Ha…ha…ha… Alhamdulillah, akhirnya Balqis hamil. Aku akan punya Arju Vi Jaysi kecil

3 Juli 2010

Faruq bermimpi Aku menikah lagi, Jika benar tafsiran mimpi menikah adalah sebaliknya atau bisa berarti K.E.M.A.T.I.A.N, lalu bagaimana nasib Balqis jika Aku mati, Apakah ada hubungan antara kematianku dengan rencana penteroran? Akankah Aku menghentikan ide gilaku untuk menteror calon petinggi? Tak apa Aku masih punya Arju Vi Jaysi kecil, penerusku, pelindung Balqisku. Aku harus punya komitmen dan tidak plin plan. Bagaimana kalau Arju Vi Jaysi kecilku tahu kalau Ayahnya takut pada misteri maut? Itu tak boleh dibiarkan.

Tapi, Faruq mengataiku, berusaha sekuat tenaga agar Aku tak melakukan ide gilaku. Bahkan Dia berani membuang satu-satunya bubuk mesiu milikku. Dia bingung dengan ucapanku tentang densus, arsy dan daunnya. Aku yakin sebenarnya Dia tahu makna ucapanku hanya saja Dia ingin menyakinkan dirinya bahwa Aku sedang mengigau.

5 Juli 2010

Aku berangkat menuju MATI

***

7 Juli 2017

Lembaran catatan harian dengan sebuah nama ‘Arju Vi Jaysi alias Ar-Rozi’ di halaman depannya berlumuran darah. Truk, Mobil pick-up, phanter dan beberapa sepeda motor telah melindasnya. Lembarannya terkoyak. Ada sepasang mata kecil bercahaya tanpa berkedip memperhatikan lembaran yang sesekali tertiup angin itu. Yang terlihat jelas di lembar terakhir adalah kata mati dengan huruf yang semakin tak jelas karena sepertinya tinta yang digunakan telah habis.

Beberapa jam yang lalu memang terjadi kecelakaan lalu lintas. Sebuah tragedi tabrak lari, korbannya dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Sesuatu milik korban yang tertinggal adalah buku catatan harian berlumuran darah pemiliknya. Bocah kecil bersarung kumal dan berkaus putih mangkak yang sedari tadi memperhatikan buku itu memungutnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Matanya awas memperhatikan sekeliling, kemudian mendekapnya erat, mungkin Dia takut ada orang lain atau polisi ingin merebut buku itu darinya. Perlahan Dia masuk Gang dan merapat ke gang kecil diantara dua warung kopi. Siaran Telivisi di warung, berlomba memberitakan kejadian beberapa jam yang lalu di sekitar jalanan itu.

“Sebuah kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Tambak Rejo Kota Kapur. Korban tabrak lari itu adalah seorang laki-laki tua yang belakangan sedang dicari-cari oleh polisi dan pihak Rumah Sakit Jiwa Permata kapur lantaran tindakan membahayakan yang dilakukannya. Beberapa bulan yang lalu Dia telah mencuri senjata api bermerek Colt M-14 Stayer milik Komandan Sucipto.

Korban yang bernama lengkap Arju Vi Jaysi ini dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Rakyat dalam keadaan tak sadarkan diri. Senjata bermerek Colt M-14 Stayer milik Komandan Sucipto yang ditemukan oleh polisi lalu lintas langsung diamankan ke kantor Kepolisian pusat di Kabupaten. Menurut keterangan dokter yang menanganinya, Dia mungkin akan mengalami KOMA[7] untuk beberapa waktu yang cukup lama karena ada benturan hebat di otaknya….” Keterangan panjang lebar yang di sampaikan oleh Presenter TV One itu membuat Bocah kecil semakin menggenggam erat buku berlumuran darah di tangannya. Air matanya perlahan jatuh.

“Vijay…! Arju Vi Jaysi…! Dimana Kau Nak…!” Perempuan Tua terdengar serak memanggil sebuah nama.

Bocah itu terperangah karena merasa namanya di panggil.

“Rupanya Kau disini sayang! Bunda cari Kamu kemana-mana tadi.” Tangan kecilnya cekatan menggulung buku catatan harian berlumuran darah dan memasukkannya ke dalam lipatan sarung kumalnya.

[4] Koran berisi gosip.

[5] Berpendirian teguh

[6] Sendika dawuh, memperhatikan kemudian taat melaksanakan apa yang diperintahkan.

[7] Antara hidup dan mati
Baca Selengkapnya..

AKU BERCADAR, BUKAN TERORIS

Kenapa …
Kau heran dengan keanehan sketsaku
Kenapa tanpa bibir Kau tanya
Sumbingkah Aku
Kenapa tanpa hidung Kau tanya
Tercabikkah hidung itu
Kenapa tanpa telinga Kau tanya
Terpotongkah telinga itu

Kau heran dengan keanehan sketsaku
Kenapa hanya tajamnya bola mata
Kenapa hanya lentiknya bulu mata
Atau kenapa hanya goresan tebal kuhl Kau Tanya

Kau Tanya
Terus bertanya
Dan Kau Tanya
Bak perempuan kesurupan setan cerewet

Inilah sebuah identitas
Identitas yang bukan tidak jelas
bukan terpaksa
Dan bukan pula taqlid buta

Setelah lama bernegosiasi dengan alam bawah sadar
Memahami beberapa tafsir ma’na
yang Kau anggap tabu
Kini Kau mulai khawatir  akan mahalnya harga nafas
Kau takut mati juga rupanya

Tenang Bung…!
Meski Aku mengenal apa itu yang disebut dinamit,
Bubuk mesiu, rudal,
Colt M-14 Stayer, Armalite MR-10
Tangan, kaki, otak bahkan hatiku tak mahir bergaul dengan mereka
Aku terlahir dari keluarga biasa
Menjalani hidup dengan biasa
Tampang biasa
Temanku biasa
Musuhku biasa
Guruku biasa
Ilmuku biasa
Emosiku biasa
Nafasku biasa
Bahkan cadar yang kukenakan ini biasa
Namun, satu hal yang perlu Kau ingat,
Keyakinanku ini Luar Biasa

O… sebentar-sebentar
Aku terlupa, cadar inikah masalahmu
Haruskah Aku membukanya
O… tentu tidak, Karena seperti Ku bilang tadi
Cadar ini luar biasa
Begitu luar biasanya, sampai Esref Armagan sekalipun akan berebut menjadikannya objek lukisan

Karena cadar ini fitrahku terjaga
Karena cadar ini kehormatanku terlindungi
Karena cadar ini Aku bergelar terpuji
Karena cadar ini Aku berhati-hati
Dan karena cadar ini Aku bernilai
Setidaknya nilai itu tertulis oleh qalam ilahi
Dalam catatan Ilahi yang tanpa tepi

Jadi tak perlu lagi Kau berteriak kencang
Hey… Teroris… Hey Teroris… Tangkap Teroris… Tangkap teroris
Otot lehermu akan putus sia-sia
Percayalah
Aku Bercadar Bukan Teroris 


Baca Selengkapnya..

RENUNGAN UNTUK INKAFA

Disaat masa menahan detak. Kosong. Non materi mengajari setiap yang bernafas menafsiri hidup.
Hidup yang tak hanya butuh otak, tapi hati. Dan. Akhirnya tiba disuatu saat yang kadang tak dapat dimengerti. Suatu saat yang berevolusi menjemput kejora. Tapi, bukan sembarang kejora. Tahukah, karena kejora itu terpahat oleh pahat emas dan… dipatri oleh pematri Tuhan yang indah.
Sejak 2.0.0.4
Angka pusaka yang melahirkan nama agung
I.N.K.A.F.A
Berdiri dengan pondasi peluh, air mata dan mungkin darah
I.N.K.A.F.A
8 tahun telah mengabdi pada agama
8 tahun telah berbakti pada bangsa
8 tahun berbakti pada negara
8 tahun mengabdi pada masyarakat
8 tahun mendidik dengan kekuatan cinta
8 tahun membimbing dengan kekuatan cinta
Cinta yang mampu memilah perbuatan yang benar atau salah
Cinta yang mampu menolak budaya hedonis,
Cinta yang mampu meredam gemerlap dunia yang silau
Cinta yang mampu membawa kepada cahaya kebenaran Allah
Sebuah Utopia ...
Seharusnya syukur terucap tanpa perintah
Thanks God
Namun, akankah kekuatan itu menyatu dengan denyut nadi lalu menjelma
Menjadi mahasiswa yang bisa meneteskan air mata, jika belum berkorban untuk almamater
Menjadi mahasiswa yang siap berperang, jika almamaternya dihina-dinakan
Menjadi mahasiswa yang bisa mencintai almamaternya sampai …
bibir membisu, tubuh terbujur kaku, nafas terhenti, jantung terdiam,
Andaikan...
Andaikan....
Cinta Almamater
Dimana sang cinta itu kini berada ?
Terlena dalam pelukan Bumi kah,
Atau tertidur lelap di kaki Sang Langit.

I.N.K.A.F.A
Selamat ulang tahun
Kami mencintaimu

Baca Selengkapnya..

Selasa, 22 November 2011

KETIKA DOSA TELAH TERTAWAR

Tanpa basa-basi, orang akan mengatakan Agama sebagai sebuah keharusan hidup mulai diragukan perannya karena kesalahpahaman berfikir. Agama yang diawal berperan sebagai juru damai dan lambang kekuatan moral kini pincang dan berjalan terseok-seok. Sebab dalam kondisi tertentu, Ia gagal memenuhi harapan pemeluknya untuk memberangus kekerasan dan melanggengkan perdamaian.
Memang benar pada dasarnya, semua agama melancarkan penolakan terhadap kekerasan karena sifatnya yang a-moral. Namun dengan dukungan sentimen idiologi, etnis dan golongan politik, agama justru tampil sebagai pemegang kendali senjata perusak. Lagi-lagi itu karena kesalahan berfikir. Padahal jika dikaji ulang, selamanya kekerasan tidak bisa duduk bersanding dengan misi perdamaian dalam satu wadah yang disebut agama. 
Dalam bukunya Agama dan kekerasan dalam Transisi demokrasi Indonesia, Haqqul Yaqin mencuplik pendapat Mark Juergensmeyer sebagai penjelasan kenapa tiba-tiba agama tidak berpegang prinsip klasiknya. Menurut Mark, keterkaitan kekerasan dengan agama bukanlah sebuah penyelewengan yang fatal sebab kondisi tersebut lahir dari induk yang disebut cosmic war. Pandangan ini diilhami oleh beberapa ide agama yang menggariskan bahwa manusia (objek yang harus dilindungi agama) selalu terancam oleh kejahatan. Sehingga agama men-setting pemikiran pemeluknya untuk berjuang memerangi kejahatan itu. Dari sudut pandang ini, kekerasan kemudian memiliki struktur yang rapi hampir di setiap sistem kepercayaan.
Sekali lagi akan kami ulang, bahwa sebab-sebab dan motif-motif kekerasan tersebut muncul dari beberapa alasan politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga frustasi. Hingga muaranya pada manipulasi doktrin agama yang dalam testimoninya, mereka mengumbar istilah jihad, melawan orang kafir, merindukan mati syahid dan sedang menjemput surga.
Secara bahasa Jihad adalah بذل الطاقة والوسع yang berarti mengeluarkan kekuatan dan apa saja yang dimampuinya. Sedangkan menurut syara’ dalam kitab Haasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’, Abdur Rohman Bin Qosim An-Najdi vol. 4 hlm 253 jihad adalah
جهاد الكفار ودعوتهم إلى الدين الحق وقتالهم إن لم يقبلوا
Yaitu melawan orang-orang kafir, mengajak mereka masuk ke dalam agama yang haq, dan memerangi mereka jika menentang masuk Islam.
Rosulullah SAW bersabda;              
وأنا امركم بخمس الله أمرني بهن بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد
أحمد عن حريث الأشعرى وصححه ترمذى ) ( رواه
“Dan aku perintahkan kalian dengan lima perkara, yang Allah telah memerintahkan padaku denganya: dengan berjama’ah, mendengar dan taat, hijrah dan jihad.” (HR. Ahmad dari Haris Al Asy’ary dan Turmudzi  dan dia menshahihkannya)
Inilah yang lantas dijadikan bahan barter atas dosa oleh beberapa oknum. Memang dalam Islam kita mengenal istilah ekspansi atau perluasan wilayah (kekuasaan) sebagai usaha penyebaran ajaran. Sepanjang sejarah dengan ekspansi telah menghasilkan beberapa peperangan. Dan untuk mendorong bergabungnya beberapa golongan, kemudian tersisipkanlah embel-embel jihad di jalan Tuhan. Akhirnya praktik jihad dapat dikatakan sebagian dari ibadah. Sedangkan gugur pada saat menjalankan ibadah pada Tuhan dihukumi syahid dengan beberapa pahala yang luar biasa. Namun itu, peristiwa klasik dan beralasan yang tak sembarangan bisa dipraktikkan untuk saat ini.
Jika dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dari Sa’id Ibn Zaid, bahwa; orang yang terbunuh membela haknya, keluarganya atau agamanya adalah syahid. Maka, orang yang mati syahid seperti yang tersebut dalam beberapa hadits berhak atas 6 anugerah, diantaranya; diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama, bisa melihat tempatnya di surga, dihiasi dengan perhiasan iman, dikawinkan dengan bidadari, dijauhkan dari siksa kubur dan aman dari kengerian Yaumul Faza’il Akbar.
Dengan kefahaman tak bertanggung jawab seseorang terhadap isi hadits tersebut, beberapa slogan pemicu aksi dimunculkan paksa. ‘Isy Karima au mut syahidan’. Slogan ini yang mengobarkan semangat untuk menjadi semakin radikal bahkan mencapai maqom teroris. Padahal seharusnya slogan ini menjadi stimulus kita untuk menjadi manusia yang lebih mulia. Lantas kapan gelar manusia mulia itu akan disandang? Idealnya, ya ketika kita sudah bisa mencontoh Rosulullah Saw. Atau setidaknya seperti sahabat-sahabat Rosul atau jika tak mampu ya seperti Ulama’ sholeh yang ngerti, bukan ulama’ GADUNGAN.
Kalau kita berguru pada ulama’ gadungan akibatnya, seperti yang seringkali terjadi di negri kita, Indonesia. Banyak diantara mereka menjadi korban yang menurut Dr. KH. A. Mustofa Bisri disebut sebagai taklid buta. Karena asal meniru tanpa mempertimbangkannya lebih matang, hasilnya ya lucu dan menggelikan. Dalam persoalan jihad mereka taqlid pada negara timur tengah, Iran atau Afganistan yang jelas-jelas memfungsikan kata jihad pada tempatnya. Itulah akibat dari taklid yang asal-asalan, mencontek perjuangan bangsa tertindas menyelamatkan negri tumpah darahnya dari musuh, dengan misalnya melakukan aksi bom bunuh diri. Aneh kan? Padahal Rosulullah SAW berperang bukan untuk menghadapi kematian atau kekalahan tapi untuk menang dan meraih kemuliaan hidup.
Allah SWT berfirman dalam (QS. An-Nisa’ 4:29), ولا تقتلوا آنفسكم ..... “Dan janganlah kamu membunuh dirimu” menurut para mufassir larangan membunuh diri itu juga berarti larangan membunuh orang lain. Karena kita adalah satu kesatuan, berasal dari satu nur Muhammad. Apalagi jika nyawa yang kita hilangkan itu adalah nyawa yang sama sekali tak berdosa. Masih layakkah disebut Syahid? Kalau si Syahid, penjaga pom mungkin bisa, bedanya ya yang dia jaga itu bom.
Bukankah meraih kemulian hidup tak harus dengan cara menanam dinamit dan meledakkannya, apalagi di negara yang jelas-jelas ditinggali oleh saudara mayoritas seiman seislam. ‘Yang ada tu mah, mati sangit di neraka bukan mati syahid’. Jika difikir-fikir, benar juga kata Dr. KH. A. Mustofa Bisri, betapa munafiq dan egoisnya jika mengorbankan manusia tak berdosa demi mendapatkan bonus bidadari surga. 
Yang benar hidup mulia dulu, baru jika Allah mentaqdirkan syahid itu berarti nilai plus. Bukan malah dijungkir balik mencari beragam cara untuk mati syahid agar mendapatkan kehidupan mulia. Kemulian hidup tak harus diraih dengan kesyahidan apalagi sampai menawarnya dengan dosa membunuh namun, bisa diluluskan dengan sebuah keamanahan. Contoh sederhananya, seperti keamanahan kita menjaga titipan Allah yang berupa ilmu, harta, keluarga dan kedudukan.
Tanpa ada akhir kesyahidan terus menjadi impian pihak tertentu atau oleh –kau tahu siapa- (sedikit mencontek cara J.K. Rowling menyebut Voldemort -Sang raja kegelapan-), yang mengusung agama sebagai porosnya. Mereka mencari jalan pintas menuju surga dengan melakukan transaksi gelap dengan malaikat. Meski sebenarnya mereka sadar malaikat juga tahu bahwa makna kesyahidan menimbulkan persoalan yang multi-tafsir, tetap saja mereka berbangga mengatakan; ‘Alhamdulillah ya, saya sudah di surga. Mati itu memang sesuatu’. Tak berlebihan jika kita menjawab sambil tertawa: JANGAN KE-PD-AN BUNG…! I 
Baca Selengkapnya..