Tampilkan postingan dengan label Sastra Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Santri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2015

TASBIH LUKA SULAIMAN AL-MANDURY (1)

/1/

Ada rasa sakit yang tak biasa saat kecewa. Sulaiman yang dipanggil Iman itu menatap tajam ke arah cermin.

Bayangan di dalam cermin tiba-tiba tertawa menyeringai. Tawa itu terlihat mengejek.

Kau kecewa pada siapa, Sulaiman? Takdir? Bayangan di cermin berujar geram.

Tidak.

Siapapun yang membuatmu kecewa, yang bersalah adalah dirimu sendiri.

Kenapa diriku?

Saat kecewa, hendaknya kau mengulas kembali masa lalumu! Jangan-jangan di masa lalu kau pernah membuat seseorang kecewa. Ya. Sengaja atau tidak.

Kau mungkin benar. Di masa lalu, aku sering mengecewakan Mak(1). Saat Mak menginginkanku menjadi petani, aku malah kabur ke pesantren. Apa kau tahu?

Sabtu, 28 Maret 2015

PERBINCANGAN SARAH DENGAN TUHAN

Tuhan…
Dia tak pernah terlihat oleh mataku, tapi aku selalu merasakan hadir dan senyumnya. Aku bisa apa? Dia hadir dalam nafasku, hadir dalam denyut nadiku, hadir dalam detak jantungku. Aku bisa apa? Dia mungkin tak peduli padaku, tapi aku tidak bisa tidak peduli padanya. Aku bisa apa? Dia mungkin bisa tertidur pulas setiap malam, tapi aku gelisah setiap kali akan tidur. Aku bisa apa? Dia bilang jika dekat dengan-Mu aku tak akan gelisah, tapi setiap kali aku ingin dekat dengan-Mu, justru dia tiba-tiba muncul dan bertahta di hatiku. Aku bisa apa?
Tuhan…
Aku tahu ini terlalu tergesa-gesa. Apakah ketergesa-gesaan ini berasal dari tipu daya Iblis yang Kau laknat. Lindungi Aku Tuhan. Tapi, Kau yang menganugrahiku hati dan Engkau pula yang memainkannya. Aku bisa apa? Jika perasaan ini salah, bisakah Engkau menunjukkan letak kesalahannya, Tuhan? Aku bisa apa? Aku sudah bilang padanya, aku akan baik-baik saja meski sebenarnya keadaanku sangat buruk. Aku tidak ingin dia merasa bersalah. Ada yang bilang merasa bersalah karena telah menyakiti rasanya lebih sakit daripada menyakiti itu sendiri. Dan aku tidak bisa memberinya rasa sakit. Aku bisa apa?

Senin, 19 Januari 2015

DZULHIJJAH

Allahu Akbar
malam itu, saat mimpi buruk mengoyak ketenangan Ibrahim... bulir - bulir keringat dingin mengucur membasahi wajah purnamanya
Sebuah titah Tuhan yang tak mudah dielak
terkurung oleh pilihan cinta Allah atau cinta darah dagingnya
Iblis meraung, berkelakar,menebar biji kedzaliman, membalut hati Ibrahim dengan keragu – raguan akan titahNya
Ibrahim menepis, berserah pada kecintaannya akan Dzat pengukir selaksa peristiwa, penentu Qodlo’ … Ismail,putranya berserah pula, denyut nadi, batang tenggorokdan nafasnya untuk kecintaannya akan Dzat pengukir selaksa peristiwa penentu Qadar
Hajar berserah pula, mengubur dalam – dalam cinta putranya untu sebuah tutah Dzat pengukir Arsy dan Kursy
Iblis kembali meraung, namu kali ini sakit yang sangat menyiksa sebab hantaman kerikil cinta akan Dzat abadi
Allahu Akbar

Sidodi, 13 Oktober 2013

SANG BIDADARI

Wahai... yang jiwanya tanpa dendam. Wahai... yang jiwanya tanpa redam. Wahai... yang jiwanya tanpa keluh, resah. Wahai... yang jiwanya tanpa amarah. Wahai... yang jiwanya tanpa dengki. Wahai... yang maafnya tiada tepi. Wahai... yang jiwanya seperti matahari, tiada henti memancarkan radiasi hingga kehidupan tak berhenti. Menyesal jiwaku tak kenal jiwamu sejak dulu. Bahkan kapan dan dimana kau dilahirkan aku tak tahu. Sesalku saat selimut menutup kulit jernihmu. Kau juga menutup matamu untuk pendamping, putra, murid dan udaramu. 20012013, Aku tak akan lupa digit itu. Di saat kau menghembuskannya terakhirkali. Katamu, “Aku sudah tak membutuhkan udara fana. Aku dijanjikan sebuah istana megah di sana.” Tawamu membahana. Terdengar jelas, kemudian remang dan ... kemana dia, kemana tawa itu... kau meninggalkannya tanpa membawa kursi roda yang teronggok. Tawamu hilang bersama angin puyuh di ujung jalan. Ah, Aku ini bagaimana? Jangankan kursi roda, Aku saja tak bisa kau bawa...!
Bagaimana Kau bisa pergi kalau masih banyak jiwa – jiwa rapuh mengemis tauladan darimu. Ikrar – ikrar penerusmu menggaung, bersahutan, Kau selalu menjawab Iya... putraku. Aku menyesal, kenapa baru kemarin, seminggu sebelum kau pergi aku teringat... Kau tahu Aku teringat apa? Pohon asam manis. Kau begitu menyukainya, bukan...? Aku pun begitu...!Bidadariku, ingin rasanya aku berhenti bernafas sejenak kemudian menemuimu dengan membawa sebungkus buah asam manis di tangan kiriku.Kata Ayah Sang Bidadari sudah menikmati malam pertamanya di surga. Kata Ayah, istananya sangat indah.Buah asam di sana juga jauh lebih manis dan nikmat. Bidadariku, Aku rindu padamu! Semoga orang – orang menyebutku Sang Bidadari ketika aku pergi jauh nanti. Sepertimu...

Tertulis di atas atap – atap kerinduan
Untuk Sang Bidadari Kami

Ibunda Nyai Hj. Ainiyah Yusuf

KENING MULLAH IMITASI

Hitam abu-abu,
Seperti baskoro tunggal
Tapi bukan karena arang atau angus
Itu  kening yang pekat bercengkrama dengan bumi
Atau mungkin batu
tak mudah bergelar mullah
seleksi ushul yang ketat
O…, rupanya ada penyusup
Ha…ha… mullah imitasi
Lucunya lagi malah mengaku orang suci
nabi katanya atau Rosulkah Kau bilang
kau ini sebenarnya lolot , olot atau tolol
mana ada utusan disiang bolong
seharusnya Kau urusi saja kening imitasi itu


Kamis, 03 Juli 2014

OTAK MAGISTER


Tanpa Memandang rasa terkadang lalai
Terbuai terlena oleh keserakahan tak terbatas
Keserakahan akan kedudukan
Jabatan tertinggi
Ah.. lebih dari sekedar itu
Keserakahan akan pujian keagungan
Bukankah berjenis-jenis gelar magister telah tersandang
Di situlah tolak kebanggaan yang nista
Dengan embel-embel gelar semua dihalalkan
Murid dibawah umur diplokoto
Mahasiswi polos dinodai
Lantas… inikah wajah pendidik?
Mau mengelakkah..?
Tak mungkin
Sejarah telah menjadi photographer handal
Untuk hal kecil semacam itu

Rabu, 23 November 2011

AKU BERCADAR, BUKAN TERORIS

Kenapa …
Kau heran dengan keanehan sketsaku
Kenapa tanpa bibir Kau tanya
Sumbingkah Aku
Kenapa tanpa hidung Kau tanya
Tercabikkah hidung itu
Kenapa tanpa telinga Kau tanya
Terpotongkah telinga itu

Kau heran dengan keanehan sketsaku
Kenapa hanya tajamnya bola mata
Kenapa hanya lentiknya bulu mata
Atau kenapa hanya goresan tebal kuhl Kau Tanya

Kau Tanya
Terus bertanya
Dan Kau Tanya
Bak perempuan kesurupan setan cerewet

RENUNGAN UNTUK INKAFA

Disaat masa menahan detak. Kosong. Non materi mengajari setiap yang bernafas menafsiri hidup.
Hidup yang tak hanya butuh otak, tapi hati. Dan. Akhirnya tiba disuatu saat yang kadang tak dapat dimengerti. Suatu saat yang berevolusi menjemput kejora. Tapi, bukan sembarang kejora. Tahukah, karena kejora itu terpahat oleh pahat emas dan… dipatri oleh pematri Tuhan yang indah.
Sejak 2.0.0.4
Angka pusaka yang melahirkan nama agung
I.N.K.A.F.A
Berdiri dengan pondasi peluh, air mata dan mungkin darah
I.N.K.A.F.A

Jumat, 24 Desember 2010

AISHITERU

Desir darah terhenti
Detak jantung terhenti
Hembusan nafas terhenti
Denyut nadi terhenti
Lidah terhenti
Bibir terhenti
Gerak otot terhenti
Tapi mataku tak bisa hentikan butiran bening diantara pelupuk
Ketika mengingat perjuanganmu menjadikanku layak berdiri disini. Bumi Allah.
It Sumo Aishiteru Mom...!

Sabtu, 04 Desember 2010

SABDA BERBANTAH



Dari duniaku…

Yang orang sebut tak jelas

Memangnya dunia masih peduli pada kejelasan

Bukankah kasus century juga tak jelas

Pilbub juga tak jelas

Peneror presiden saja tak jelas

Ormas-ormas punya visi misi tak jelas

Bahkan perempuan-perempuan itu mengandung bayi yang tak jelas

Suaminya saja tak jelas

Apalagi masa depannya, jelas tak jelas

Ya… asalkan jangan punya agama tak jelas

Dan sekarang…! Haruskah Aku memperjelas warnaku

Toh Aku, sudah terbiasa mendengar dan merasa peka

Peka pada rasa

Dan rasa pada peka

SEMOGA BAPAK PLURALISME MENDENGARKU

Saat kereta jawa bertudung lambang keberanian dan kesucian itu membawa Bapak, pergi jauh entah kemana. Yang jelas pengiring–pengiring itu akan mengantar Bapak menghadap Keluhuran Dzat yang sama-sama kita cintai. Saat itu juga, aku baru sadar kalau Bapak benar-benar telah menitipkan Indonesia untukku, walau ku tak yakin mampu mengemban amanah itu. Seandainya Bapak tahu, kantong mata ini menggelembung karena tangis, tangis yang tak dibuat-buat, tangis yang tiba-tiba saja membanjiri ruang bawah sadarku.
Bapak, kenapa Bapak tak bilang-bilang dulu kalau mau hijrah jauh, mungkin saja aku ingin dibawakan oleh-oleh. Atau mungkin Bapak masih belum kenal aku? Ah, semoga Bapak masih ingat siapa aku.